Berita pujasintara

Telusur Sumatra dari Ragam Koleksi Langka Perpusnas

Image

Sebagai salah satu pulau besar di nusantara, Sumatra memiliki sejarah yang panjang. Sumatra tercatat dalam catatan perjalanan musafir asing, seperti I-Tsing (abad 7), Marco Polo (abad 13), dan Ibnu Batutah (abad 14). Jauh sebelum itu, Sumatra sudah menarik perhatian para pedagang di sekitar mediterania untuk datang dan mencari komoditas khas dari pulau yang dikenal juga dengan sebutan Suwarnabhumi atau “tanah emas”. 

Sejarah Sumatra tersebut dapat ditelusuri dari berbagai sumber, di antaranya koleksi langka Perpustakaan Nasional yang terdiri dari monograf (buku), surat kabar, majalah, jurnal, terbitan statistik, foto, peta, dan lukisan. Hal ini diungkap dalam kegiatan Literasi Koleksi Langka bertema “Penelusuran Sumber Sejarah Sumatra pada Koleksi Langka Perpustakaan Nasional RI”, Rabu (24/11/2021). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung dan Perpustakaan Nasional RI. 

Dekan Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung Dr. H. Mahmudin Bunyamin, Lc. M.A. mengharapkan kegiatan ini tidak saja dapat menumbuhkembangkan budaya literasi di masyarakat, khususnya bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga membuka peluang dan isu riset yang menarik ditindaklanjuti di masa mendatang. Dalam sambutannya, Koordinator Layanan Koleksi Monograf dan Berkala Langka Perpustakaan Nasional RI Luthfiati Makarim, S.S., M.M. mengatakan bahwa Perpustakaan Nasional berkewajiban menyimpan dan mendiseminasikan sumber-sumber yang dimilikinya untuk mendukung program pembangunan nasional serta menumbuhkan kepribadian bangsa. 

Manfaat dari koleksi langka Perpustakaan Nasional RI diakui oleh Dosen Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung Dr. Abd. Rahman Hamid, M.Si. Dari koleksi tersebut, ia mengaku telah berhasil menyelesaikan gelar doktornya. Bahkan, disertasinya tentang jaringan maritim di Mandar telah diterbitkan menjadi buku. 

“Keberadaan koleksi langka sebagai jejak dari masa lampau menjadi syarat mutlak adanya suatu dialog antara masa sekarang dengan masa lampau,” ucap Rahman Hamid. Agar dapat berdialog dengan masa lampau, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengajukan pertanyaan. Tanpa itu, peneliti sejarah akan tenggelam di lautan sumber sejarah yang begitu banyak. “Maka, pertanyaan itu sebetulnya adalah awal dari sejarah. Pertanyaan dengan sendirinya menyeleksi sumber dan bagian-bagian mana dari sumber sejarah yang perlu dibaca, dianalisa, dan ditulis,” tegasnya. 

Salah satu sumber koleksi langka yang dapat menjadi sumber sejarah, yaitu koleksi surat kabar langka. Ketua Kelompok Layanan Surat Kabar Langka Atikah, S.Sos., M.Si. mencontohkan suatu cerita bersambung yang dimuat di harian Indonesia Raya tahun 1969 berjudul “Kenang-kenangan Nakhoda Muda Kiai Demang Purwasedana”. Cerita ini merupakan terjemahan dari sebuah naskah melayu. Dari cerita ini, orang dapat mengetahui bahwa Lampung pernah bagian dari jalur pelayaran nusantara, juga menjadi sentral rempah dunia sebagai penghasil lada. 

Sejarah transportasi dan transmigrasi juga bisa menjadi topik penelitian menarik tentang Lampung. “Saya menemukan berita mengenai wilayah kolonialisasi di Way Sekampung dan beberapa daerah lain. Kolonialisasi ternyata bukan cuma untuk petani miskin dari Jawa, tetapi juga pemuda terpelajar. Hal ini saya dapat dari Soeara Oemoem tahun 1939,” jelas Atikah. 

Koleksi majalah dan jurnal langka merupakan sumber sejarah lain yang dapat dimanfaatkan peneliti. Seperti artikel mengenai gaya berbusana penduduk asli Lampung di majalah Selecta edisi 103 tahun 1962. Artikel tersebut menunjukkan foto keluarga orang Lampung, di mana perempuan yang telah menikah tidak mengenakan selendang dan perhiasan kecuali cincin dan kerabu. Berbeda dengan anak gadis yang bersolek dengan perhiasan emas, mulai dari gelang, kalung, juga tutup kepala. Ketua Kelompok Layanan Majalah dan Jurnal Langka Hety Setiawaty, M.P. juga menyebutkan koleksi majalah yang terbit di Lampung seperti Lampung Revue (1931), Pelita Marga (1932), Poesiban (1939), serta Teknora (1975).

Dari segi keislaman, pemikiran paran tokoh muslim dapat diketahui dari karangan-karangannya. Perpustakaan Nasional, misalnya, menyimpan teks Cerita Perbantahan Dahulu Kala (CPDK) yang berisi pembelaan Tuanku Nan Garang (nama samaran) atas kritikan Sayid Uthman bin Yahya bin ‘Aqil kepada Syaikh Ismail al-Minangkabau. Perpusnas juga menyimpan karangan Sayid Uthman. Buku karangan tersebut memiliki bentuk fisik yang relatif kecil dan tidak lebih dari 25 halaman. 

Sejarah Sumatra khususnya Lampung juga dapat ditelusur dari koleksi peta dan foto, contohnya Peta Sejarah Provinsi Lampung yang diterbitkan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional tahun 1988. Peta-peta ini menggambarkan daerah megalitik dan patung (abad I-V), wilayah kerajaan Lampung abad V-VII, daerah pengaruh kerajaan Sriwijaya, hingga peta pemukiman transmigrasi sejak 1905. Ada pula sejumlah foto seperti foto kunjungan Presiden Sukarno ke Metro Lampung tanggal 28 Juni 1948 dan upacara pernikahan di daerah Menggala, Lampung. 

Dalam kegiatan ini dijelaskan pula mengenai pelestarian koleksi langka tersebut. Salah satunya adalah koleksi mikrofilm sebagai bentuk alih media dari surat kabar, majalah, dan jurnal langka. Surat kabar terbit dengan bahan kertas yang mudah rapuh, sehingga perlu perhatian khusus dalam hal perawatannya. Selain mikrofilm, sebagian koleksi langka juga dialih media ke bentuk digital dan bisa diakses lewat situs web Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara).

Kegiatan Literasi Koleksi Langka ini diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom serta dihadiri tidak kurang dari 300 peserta dari seluruh penjuru tanah air. Materi Literasi Koleksi Langka bisa diunduh di sini. Kegiatan ini juga dapat diikuti kembali melalui YouTube.


Penulis: Khusnul Khatimah